Sabtu, 08 Mei 2010

MATERI PENDIDIKAN AKHLAK

1. Pendahuluan.

Dalam sejarah pendidikan di indonesia,pendidikan akhlak mulai populer di sekolah-sekolah umum setelah republik indonesia mewajibkan pendidikan agama di sekolh-sekolah.Para pendidik di Indonesia banyak yang beranggapan bahwa pendidikan agama terutama di sekolah-sekolah masih belum efektif,karena itu dikalangan para pendidikdi berbagai lingkungan pendidikan dilakukan berbagai upaya kearah tercainya tujuan pendidikan agama tersebut.[ta'di2002,25,5 v]
Adanya prilaku anak didik yang menyimpang dari ajaran agama seperti perkelahian antara pelajar, kurangnya rasa hormat seorang murid kepada guru, akrabnya anak muda dengan obat-obatan terlarang, pergaulan bebas dan lain-lain,merupakan indikasi ketidak berhasilan pendidikan agama, khususnya pendidikan akhlak di sekolah maupun di perguruan tinggi.[sari 1996,65,7D]
Keadaan seperti ini tentu menuntut adanya usaha perbaikan, karena jika dibiarkan akan menghancurkan kehidupan manusia berupa hilangnya hakekat dan martabat manusia,sebagaimana firman Allah dalam s.attin :5 yang artinya "kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya".Oleh karena itu Allah Swt mengutus Rasulullah untuk membawa tugas, yaitu menyempurnakan akhlak sebagaimana sabda nabi yang artinya "Dari Abu hurairoh dia berkata:bersabda rasulullah saw sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak. [Ahma1991.8 D]

II. Pembahasan.

A. Pengertian Akhlak.

Secara etimologi akhlak adalah bentuk jamak dari khuluk yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. berakar dari kata kholaqo yang berarti menciptakan,seakar dengan kata khoolaqo (pencipta) makhluk (yang diciptakan)dan khalak (penciptaan).
Dengan adanya kesamaan akar kata di atas, mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak kholik (pencipta) dengan makhluk (manusia). Dengan kata lain tata prilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungan mengandung akhlak yang hakiki manakala tindakan atau prilaku tersebut didasarkan kepada kehendak kholik/Tuhan. [Ilya1999,1,7u]

B. Ilmu Akhlak.

Perbuatan atau tingkah laku manusia dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Perbuatan yang disengaja, yaitu perbuatan yang dikerjakan seseorang didorong oleh buah pikiran, usaha, dan kemauan, seperti : menulis surat, memberi sedekah, berpidato, memarahi orang lain, memfitnah dan sebagainya'

2. Perbuatan yang tidak disengaja, yaitu perbuatan yang terjadi secara reflek, tidak timbul dari pikiran dan kesengajaan umpamanya : memejamkan mata dan membuka mata setiap hari. Begitu juga usus manusia yang bekerja secara otomatis dalam mencerna makanan. Paru-paru yang mengatur pernapasan. Jantung kembang kempis mengatur peredaran darah dalam tubuh manusia. Hal-hal itu terjadi tanpa pemikiran dan ikhtiar. Ia berjalan dengan sendirinya.

Ilmu akhlak membahas amal perbuatan yang disengaja saja. Tindak tanduk yang digolongkan kepada perbuatan baik atau buruk, terpuji atau tercela dan berpahala atau berdosa, hal-hal yang terjadi secara refleks tersebut, tidaklah masuk dalam pembahsan dan akhlak.

Menurut Imam Ghazali : akhlak adalah sifat yang melekat dalam jiwa seseorang yang menjadikan ia dengan mudah bertindak tanpa banyak pertimbangan lagi, atau sudah menjadi kebiasaan.

Sebagian ulama menyatakan : akhlak adalah suatu sifat yang terpendam dalam jiwa seseorang dan sifat itu akan timbul waktu ia bertindak tanpa merasa sakit.

C. Materi Pendidikan Akhlak dan Cara Menanamkannya.

Ketika berbicara tentang pendidikan akhlak tidak terlepas dari pendidikan agama, karena antar akhlak /moral dengan agama sangat berhubungan.

Jika kita tinjau keadaan masyarakat modern terutama dikota-kota besar, maka akan kita dapati moral sebagian anggota masyarakat mulai merosot dalam masyarakat tersebut kepentingan umum tidak lagi menjadi nomer satu, akan tetapi kepentingan dan keuntungan pribadinya yang menonjol pada banyak orang

Kejujuran , kebenaran , keadilan dan keberanian tertutup oleh penyelewengan-penyelewengan baik yang terlihat berat maupun ringan. Banyak terjadi adu domba dan fitnah, menjilat, menipu mengambil hak orang sesuka hati, disamping perbuatan-perbuatan maksiat lainnya yang dihinggapi oleh kemerosotan moral tidak saja orang-orang yang telah dewasa, akan tetapi telah menjalar sampai kepada tunas-tunas muda yang dharapkan untuk melanjutkan perjuangan embela kebenaran, keadilan dan perdamaian.

Sebenarnya factor-faktor yang menimbulakan gejala-gejala kemrosotan moral dalam masyarakat modern sangat banyak,dan yang terpenting adalah kurang tentramnya jiwa agama dlam hati tiap-tiap orang, dan tidak dilakdanakannya agama dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh individu maupun oleh masyarakat.,

Sedangkan menurut Dr. Abdllah Nashih Ulwan, diantara factor-faktor yang menyebabkan penyimpangan moral anak adalah sebagai berikut :

1. Jika orang tua membiarkannya bergaul dengan sahabat-sahabatnya yang berperangai buruk, tanpa ada pertanyaan dan penegasan.

2. Memperkenankan anak-anaknya untuk menonton film-film porno yang mengarahkan prnyimpangan dan film-film criminal yang mengarahkan pada timbulnya tindak kejahatan.

3. Jika orang tua memperhatikan putra putrinya ketika pergi dan pulangsekolah.

Dari factor-faktor tersebut diatas dapat perlu disimpulkan bagi orang tua dan pendidik didalam mendidik anak-anak harus membiasakan untuk berakhlak baik.

III. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa materi pendidikan akhlak merupakan hal yang urgen dalam pembinaan seorang anak didik sedangkan materi pendidikan akhlak dalam presfektif hadist cenderung melahirka generasi muda yang baik kemudian hari. Jika pendidikan akhlak ditanamkan sejak kecil dan intensif. Selain adanya koorperatif antara orang tua, guru dan masyarakat. Hal ini tersebut dapat terlaksana dengan cara memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya.

!V. DAFTAR PUSTAKA

1. Ta’bid (Jurnal Pendidikan Islam Vol.2 No.1 )

2. Warwan sarijo, Bunga Rampai Pendidikan Aama Islam

3. Imam Ahmad bin Hajar Asqolam, musnad Imam Ahmad Bin Hambal (Beirut : Dar Fikr, 1991)

4. Ynahal Ilyas, Kuliah Akhlak (Yogyakarta Lembaga Pengkayaan dan Pengalaman Islam 199)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar